Selasa, 28 April 2009

PROSES PENALARAN ILMIAH

PROSES PENALARAN ILMIAH

MATA KULIAH: FILSAFAT ILMU


DISUSUN OLEH:

KELOMPOK A3

RICKY B. LAIYAN 7216080543

DARYANTO 7216080054

KAMARSYID 7226080548

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2009



PROSES PENALARAN ILMIAH

  1. Pendahuluan

Proses penelitian selalu dimulai dengan adanya masalah yang ingin diketahui. Seringkali berbagai gejala dan fenomena yang terlihat pada suatu persoalan tidak mudah diidentifikasi. Untuk melakukan proses penalaran ilmiah peneliti juga perlu mengikuti beberapa tahapan guna menjelaskan masalah apa yang ingin diteliti.

  1. Pembahasan

1. Perumusan masalah

Masalah adalah kesenjangan (discrepancy) antara apa yang seharusnya (harapan) dengan apa yang ada dalam kenyataan sekarang. Kesenjangan tersebut dapat mengacu ke ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Penelitian diharapkan mampu mengantisipasi kesenjangan-kesenjangan tersebut. Masalah yang perlu dijawab melalui penelitian cukup banyak dan bervariasi misalnya masalah dalam bidang pendidikan saja dapat dikategorikan menjadi beberapa sudut tinjauan yaitu masalah kualitas, pemerataan, relevansi dan efisiensi pendidikan (Riyanto, 2001:1)

Menurut Ritchie Colder, proses kegiatan ilmiah dimulai saat manusia tertarik pada sesuatu. Ketertarikan ini karena manusia mempunyai sifat perhatian. Pada saat manusia tertarik pada sesuatu, sering dalam pikirannya timbul berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu menurut John Dewey dinamakan sebagai suatu masalah. Jadi perumusan masalah merupakan langkah untuk mengetahui masalah yang akan dipecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan, kedudukan dan alternatif cara untuk memecahkan masalah tersebut. Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai suatu obyek serta dapat diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan objek tersebut.

Proses kegiatan ilmiah di mulai saat manusia tertarik terhadap sesuatu, sering dalam pikirannya timbul berbagai pertanyaan. proses menemukan masalah ini di kenal sebagai perumusan masalah. perumusan masalah merupakan langkah untuk mengetahui masalah yang akan di pecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk memecahkan masalah tersebut.

2. Penyusunan Kerangka Berpikir

Penyusunan kerangka berpikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan antara berbagai faktor yang berkaitan dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. Kerangka berpikir disusun secara rasional berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah yang telah teruji kebenarannya. Penyusunan kerangka berpikir menggunakan pola berpikir logis, analisis, dan sintesis atau keterangan-keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Keterangan dalam menyusun suatu kerangka berpikir dapat diperoleh dari buku-buku, laporan hasil penelitian orang lain, wawancara dengan pakar, atau melalui pengamatan langsung di lingkungan. Keterangan-keterangan tersebut akan menghasilkan suatu kerangka berpikir. Kerangka berpikir ini berguna sebagai dasar penarikan hipotesis.

Penyusunan kerangka berpikir di susun secara rasional berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah yang telah teruji kebenarannya. Penyusunan kerangka berpikir menggunakan pola berpikir logis, analitis dan sintesis atas keterangan yang di peroleh dari berbagai sumber informasi. kerangka berfikir ini berguna sebagai dasar menarik hipotesis.

3. Perumusan Hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan atau pertanyaan yang diajukan berdasarkan kesimpulan kerangka berpikir. Dikatakan sebagai jawaban sementara sebab hipotesis ini baru mengandung kebenaran yang bersipat logis dan teoritis. Namun kebenarannya belum bersifat empiris karena belum terbukti melalui eksperimen. Padahal setelah disepakati bahwa kebenaran ilmu harus mengandung kebenaran yang bersifat logis dan empiris. Penyususnan hipotesis dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian setiap orang berhak menyusun hipotesis tidak hanya terbatas oleh sekelompok orang saja.

Pada umumnya hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menguraikan hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan tak bebas gejala yang diteliti. Hipotesis mempunyai peranan memberikan arah dan tujuan pelaksanaan penelitian, dan memandu ke arah penyelesaiannya secara lebih efisien. Hipotesis yang baik akan menghindarkan penelitian tanpa tujuan, dan pengumpulan data yang tidak relevan.

Hipotesis dapat dirumuskan secara tepat sebagai suatu pernyataan sementara yang di anjurkan untuk memecahkan suatu masalah, atau untuk menerangkan suatu gejala. Dalam bentuk sederhana, hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubungan antara variabel-variabel didalam suatu persoalan. Hipotesis tersebut kemudian diuji didalam penelitian. Oleh sebab itu hipotesis ini diajukan hanya sebagai saran pemecahan bagi masalah itu, dengan pengertian bahwa penyelidikan selanjutnyalah yang akan membenarkan atau menolaknya.

4. Pengujian Hipotesis

Langkah selanjutnya adalah menguji hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan dengan menganalisis data. Data dapat diperoleh melalui berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan penarikan kesimpulan. Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti atau fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis.

Untuk menguji suatu hipotesis, peneliti:

1. Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar.

  1. Memilih metode-metode penelitian yang akan memungkinkan pengamatan, eksperimentasi, atau prosedur lain yang diperlukan untuk menunjukan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak.

3. Menerapkan metode ini serta mengumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data atau tidak.

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menganalisis data. data dapat di peroleh melalui berbagai cara, salah satunya melalui percobaan. pengujian hipotesis juga berarti megumpulkan bukti atau fakta yang relevan dengan hipotesis yang di ajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta yang mendukung hipotesis.

5. Penarikan Kesimpulan

Setiap kesimpulan yang dibuat oleh peneliti semata-mata didasarkan pada data yang dikumpulkan dan diolah. Hasil penelitian tergantung pada kemampuan peneliti untuk menfasirkan secara logis data yang telah disusun secara sistematis menjadi ikatan pengertian sebab-akibat obyek penelitian. Setiap kesimpulan dapat diuji kembali validitasnya dengan jalan meneliti jenis dan sifat data dan model yang digunakan.

Penyusunan bab tentang kesimpulan dan saran ditujukan untuk memberi ringkasan tentang:

o Apa yang telah dipelajari (biasanya di bagian awal kesimpulan)

o Apa saja yang masih harus dipelajari (arah penelitian berikutnya)

o Hasil yang diperoleh dalam penelitian (evaluasi)

o Manfaat, kelebihan, dan aplikasi temuan penelitian (evaluasi)

o Rekomendasi

Kesimpulan seharusnya ringkas saja. Sebagai gambaran, pada banyak publikasi hasil penelitian bagian kesimpulan mencakup hingga 2,5% dari keseluruhan laporan. Kesimpulan yang terlalu panjang seringkali disebabkan memuat rincian yang tidak perlu. Bab tentang kesimpulan bukanlah tempat bagi rincian tentang metodologi atau hasil penelitian. Walaupun kamu harus memberikan ringkasan tentang apa yang telah dipelajari dalam penelitian, ringkasan tersebut tidak harus panjang karena penekanan pada bagian kesimpulan terletak pada implikasi, evaluasi, dlsb.

Bila pada bagian pendahuluan dimaksudkan untuk bergerak dari umum (bidang kajian) ke khusus (topik penelitian), maka dalam bagian kesimpulan kamu harus bergerak dari yang lebih khusus (penelitian kita) kembali ke umum (bidang kajian, bagaimana penelitian kita akan mempengaruhi dunia). Dengan kata lain, dalam kesimpulan kita harus meletakkan penelitian kita ke dalam konteks.

Aspek negatif dari penelitian kita seharusnya tidak diabaikan. Masalah, kelemahan, dan lain-lain sejenisnya dapat dimasukkan ke dalam bagian kesimpulan sebagai suatu cara untuk mengkualifikasikan kesimpulan yang peneliti buat (memperlihatkan aspek-aspek negatif, bahkan seandainya hal tersebut lebih bermakna dibandingkan dengan aspek-aspek positifnya)

Sering terjadi tujuan penelitian mengalami perubahan ketika penelitian sedang dijalankan. Hal tersebut tidak menjadi masalah sepanjang kamu tidak lupa untuk kembali dan menyusun ulang tujuan yang telah ditulis pada bagian pendahuluan sehingga secara akurat merefleksikan apa yang sedang kamu selesaikan dalam penelitian (bukan apa yang kita pikirkan akan dapat diselesaikan pada saat kita mengawali penelitian).

  1. Kesimpulan

Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan.

DAFTAR PUSTAKA

Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu,Positivisme, PostPositivisme dan PostModernisme, (Yogyakarta : Rake Sarasin,2001)

http://mthp.blogspot.com/2007/09/struktur-penelitian-ilmiah-biologi.html

http://metode-penelitian.blogspot.com/

http://www.progriptek.ristek.go.id/webrur/metode%20ilmiah%205.htm

http://www.progriptek.ristek.go.id/webrur/proses%207.htm

http://www.progriptek.ristek.go.id/webrur/metode%20ilmiah%203.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar